Sukoharjo, 8 Mei 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence/AI, ITB AAS Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang progresif dan adaptif. Dr. Budiyono, S.E., M.Si., seorang akademisi sekaligus praktisi terkemuka, merilis kajian akademis strategis mengenai transformasi sistem pendidikan tinggi melalui integrasi AI.

Dalam kajiannya, Dr. Budiyono menekankan bahwa institusi pendidikan tidak lagi memiliki ruang untuk bersikap ragu atau menyisakan “residu” penolakan terhadap AI. Menurutnya, percepatan teknologi yang berkembang melampaui kurikulum statis menuntut institusi pendidikan untuk melakukan transformasi secara radikal.

Pilihannya hanya dua: beradaptasi secara total atau tertinggal (stay behind) dalam kondisi gaptek. Kesenjangan digital ini akan berakibat fatal pada daya saing lulusan kita di pasar kerja global,” tegas Dr. Budiyono dalam pemaparannya.

Berdasarkan riset internal yang melibatkan 50 mahasiswa dan 20 dosen di lingkungan ITB AAS Indonesia, ditemukan fenomena psikologis unik yang disebut sebagai “Malu-Malu Tapi Butuh”. Banyak praktisi akademik yang secara formal masih ragu mengakui penggunaan AI demi menjaga citra orisinalitas, namun secara praktis sangat bergantung pada presisi teknologi tersebut.

Dr. Budiyono menyatakan bahwa kejujuran intelektual dalam memanfaatkan AI sebagai alat bantu merupakan bentuk kecerdasan strategis yang perlu dilegitimasi. Riset tersebut juga menunjukkan bahwa AI unggul dalam kecepatan pengolahan data serta mampu menjadi “tutor pribadi” bagi mahasiswa dan mitra strategis bagi dosen dalam validasi riset.

Filosofi utama yang diusung dalam kajian ini adalah penempatan AI sebagai Co-Pilot (pendamping teknis), bukan sebagai Pilot (pengganti). Kendali atas etika, intuisi, dan arah pemikiran kritis tetap berada sepenuhnya di tangan manusia.

Sebagai bentuk keseriusan dalam menghadapi transformasi digital, ITB AAS Indonesia telah mengambil langkah pionir dengan menerbitkan Pedoman Penggunaan AI yang dilegitimasi melalui SK Rektor. Regulasi ini bertujuan untuk menghilangkan kebimbangan sivitas akademika dalam berinovasi, sekaligus menetapkan batasan etis guna menjaga integritas proses pembelajaran.

Tujuan akhir dari integrasi teknologi ini adalah mewujudkan visi mahasiswa menjadi pengusaha yang sukses dan kaya di sektor riil melalui penguasaan teknologi terkini.

”Menjadikan AI sebagai rekan perjalanan akan melahirkan generasi yang tidak hanya mahir teori, tetapi juga tangguh secara teknologi. Pemenang masa depan adalah mereka yang ahli mengarahkan kecerdasan AI untuk mewujudkan impian besar mereka,” pungkas Dr. Budiyono.

Melalui rilis kajian ini, ITB AAS Indonesia berharap dapat menjadi motor penggerak bagi perguruan tinggi lain di Indonesia dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif, inovatif, dan visioner di era kecerdasan buatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *